en id
Wednesday, 20 September 2017

Latest News

Teknokrat Sabet Juara IV Tingkat Nasional

  • Published: Wednesday, 14 September 2016 01:47
  • Hits: 556

MAHASISWA Sastra Inggris Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Teknokrat berhasil mengukir prestasi gemilang tingkat nasional. Mereka adalah Redika Cindra Reranta dan Masnia Rahayu, Kerjasama yang apik dari keduanya membawa mereka merebut juara IV Lomba Berbalas Pantun tingkat Nasional yang dihelat 4-6 September di Hotel Nala Seaside, Bengkulu.

Sebelumnya, keduanya lebih dulu meraih juara pertama dalam ajang Lomba Berbalas Pantun tingkat Provinsi Lampung yang digelar di Balai Bahasa Provinsi Lampung.

Keduanya mengikuti lomba nasional tersebut berkat visi dan misi hendak menjadi generasi yang mengenal dunia internasional, namun tetap membudidayakan ciri khas tradisional asli daerah. Serta tetap ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang menampilkan kegiatan budaya lokal. Terbukti,  kini mereka berhasil mengharumkan nama baik Perguruan Tinggi Teknokrat.

“Bagi saya kemenangangan ini hasil dari usaha yang selama ini kami perjuangkan. Tentunya rasa senang dan syukur saya rasakan karena semua terbayar dengan hasil yang memuaskan,” ujar Masnia seraya menerangkan pembagian hadiah dilakukan pada 9 September.

Dalam perlombaan tersebut tema yang dibawakan peserta sudah disiapkan oleh panitia. Itu artinya tema pantun tidak bisa mereka tentukan sendiri. Nah, di level semi final, tim Teknokrat mendapatkan tema tentang bahasa asing. Sedangkan di final mereka mendapatkan tema tentang sastra dan bahasa. Yang mana, penyampaian tema oleh panitia tidak disampaikan secara langsung. Melainkan dengan pantun yang abstrak.

Dia berharap, pantun yang merupakan salah satu budaya dan sastra Lampung nantinya bisa berkembang bukan hanya di kalangan dewasa. Tetapi juga di kalangan remaja dan anak-anak. Sebab, dalam pantun terkandung banyak nasehat dan ilmu yang bisa didapatkan. Tentunya dengan penyusunan kata yang indah dan bermakna sesuai dengan kaidah struktur pantun. Bahkan, pantun pun sejatinya merupakan hiburan yang mendidik bagi masyarakat Lampung.

“Insya Allah nantinya kami menulis dan menerbitkan buku pantun sebagai pembelajaran, hiburan, pelestarian, dan budaya,” ujarnya yang turut diamini oleh Redika selaku rekan satu timnya. (cw11/c1/sur)

 

Go to Top