en id
Monday, 23 October 2017

Latest News

Semarak Kontes Robot Se-Lampung Di Universitas Teknokrat Indonesia

  • Published: Thursday, 30 March 2017 03:39
  • Hits: 432

Untuk kali kedua, Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) menggelar kontes robot se-Lampung. Setelah pada tahun lalu, tahun ini Universitas Teknokrat Indonesia kembali mengadakannya. Belasan sekolah dan puluhan siswa ikut andil dalam kontes ini. Bagaimana suasananya?

SUASANA Universitas agak berbeda kala Radar Lampung berkunjung ke kampus tersebut kemarin (24/3). Puluhan pelajar berseragam SMA hilir mudik di kampus tersebut, terutama di aula indoor Universitas Teknokrat Indonesia.

Ya, puluhan pelajar tersebut berada di Universitas Teknokrat Indonesia untuk mengikuti Kontes Robot Se-Lampung. Saat itu, mereka sedang bersiap unjuk kemampuan hasil rakitannya. Di tahun kedua gelaran ini, kontes robot itu diikuti 73 siswa sebagai peserta.

Robot-robot ciptaan siswa ini dibagi menjadi dua kontes. Kontes Line Follower yang diikuti 19 tim dan roket air yang berjumlah 18 tim. Setiap tim yang mengikuti perlombaan terdiri dari dua orang siswa, dan kontes ini memperbolehkan setiap sekolah mengirimkan lebih dari dua regu.

Robot yang diperlomkana Line Follower nantinya harus melalui garis yang dibuat panitia. Robot harus mengikuti garis-garis tersebut hingga finish. Diujung sudah disiapkan lilin, dan robot-robot tersebut harus mematikan harus mematikan api yang menyala. Tujuannya, untuk membantu menjaga ruangan saat terjadi kebakaran.

“Yang paling tercepat sampai ke garis finish adalah pemengannya. Tapi bukan hanya waktu yang menjadi penilaian, panitia juga menimbang bobot dan panjang bobot mereka. Kalau lebih dari standar yang dibuat panitia, amaka sudah mengurangi penilaian,” jelas Ketua Panitia Kontes Robot Se-Lampung Zakaria Sanias Subhi kemarin.

Setiap satu robot Line Follower memamng membutuhkan waktu dan dana yang cukup. Karena bahan-bahan yang dipergunakan untuk merangkai menjadi kesatuan robot harus dibeli melalui toko online. Tak hanya itu, satu rangkaian robot juga membutuhkan keterampilan dalam program dan elektrodinamika. Biayanya juga berkisar Rp. 500 ribu hingga Rp. 3 juta. Setiap satu unit robot Line Follower membutuhkan LCD, roda karet, dinamo sebagai mesin penggerak, di dalamnya juga ada batu baterai dan PCB.

Adityo Dio Vanesa, siswa asal SMKN 2 Bandarlampung mengatakan, hal itulah yang menjadi kendala terbesar saat program mulai diaplikasikan ke robot tersebut.

“Yang ditakuti saat lomba nanti seperti dalam persiapan. Soalnya pernah kita program, tapi nggak sesuai. Robotnya nggak mengikuti garis, tapi untuk sekarang, kami yakin robot kami bisa,” yakin pelajar kelas XI.

Di kontes lainnya, robot roket air yang dipertandingkan akan meluncur ke udara. Roket paling tinggi luncurannya adala pemenangnya. Uniknya, bahan-bahan yang digunakan untuk merakit robot roket ini menggunakan barang bekas, terutama botl bekas minuman kemasan. Tujuannya kontes robot roket air ini untuk menirukan hasil ciptaan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) sebelumnya.

Roket air dalam kontes ini penilainnya saat terbang vertikal. Nantinya, robot akan diterbangkan dengan bantuan air dan diberi angin. Tapi, maksimal tekanan airnya hanya 6 bar dari kompresor. Nantinya, para peserta diberi kesempatan tiga kali menerbangkan.

Bagi Dafa Sitanala P.B., pelajar asal SMA YP Unila, robot roket air yang dimiliki sekolahnya mampu terbang hingga atap lantai tiga sekolahnya. Dari sana dia yakin tim roket air sekolahnya mampu terbang hingga 20 meter ke udara.

Selain ketinggian yang dinilai, peserta juga tidak boleh membuat robot roket airnya melebihi ukuran 100cm. Jika melebihi, ditakutkan tidak dapat terbang dengan maksimal karena harus melawan gaya garvitasi bumi. Sayap dan tubuh roket juga harus seimbang. Jika peserta dapat membuat program roket buatannya dengan plastik terjun payung akan mendapat nilai lebih.

“Kalau pembuatan robot roket airnya Cuma lima hari, barang-barangnya juga sangat mudah didapat kok. Setiap satu roket butuh pipa pvc diameter 7 cm, botol bekas, selang, almunium batangan, kalau kelistriknya batu baterai, saklar, nozzle. Kita buat itu (robot roket) tiga hari sebelum hari ini,” jelas Angga Putra Prayitnya, siswa SMKN 3 Kota Metro. (p2/c1whk)

Go to Top